LAWATAN SEJARAH SITUS PRASASTI CUNGKRANG MGMP SEJARAH SMK KABUPATEN PASURUAN

Agenda Sekolah Informasi Sekolah Kegiatan Sekolah

Sebanyak 15 guru mata pelajaran sejarah dari SMK Kabupaten Pasuruan melakukan kegiatan lawatan sejarah yang berkesan pada hari Sabtu, tanggal 2 Maret 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan warisan sejarah kepada generasi muda. Awalnya, rombongan guru-guru ini berkunjung ke Prasasti Cungrang/Cungkrang, yang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, di lereng timur laut Gunung Penanggungan.

Prasasti Cungrang adalah sebuah batu bertulis yang ditemukan di lokasi pemakaman desa. Dibuat pada masa Sri Maharaja Rakehino Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur, pada tahun 851 Saka/929 Masehi (Jumat Pahing, 18 September). Saat ditemukan, prasasti ini terpendam dalam tanah dengan tinggi 126cm, lebar 26cm, dan tebal 22cm. Kedua sisinya dihiasi dengan tulisan beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Saat ini, prasasti Cungrang masih berada di tempat penemuan dan telah diletakkan di suatu pendopo kecil berkuncup.

Selain Prasasti Cungrang, ada juga prasasti lain yang terbuat dari lempengan tembaga sebanyak dua keping, juga dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno, yang ditemukan di Gunung Kawi, Malang. Prasasti-prasasti ini sebagai ungkapan terima kasih kepada warga Dusun Cungkrang karena telah merawat pertapaan, prasada, dan pancuran di Prawitra.

Ibu Ana, juru kunci prasasti, berharap agar Dinas Pendidikan memperkenalkan Prasasti Cungkrang ini kepada masyarakat luas, terutama kepada para guru-guru. Menurutnya, Prasasti Cungkrang merupakan cikal bakal dari Kabupaten Pasuruan, dan sangat penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda. Dengan memahami sejarah Pasuruan, anak didik akan semakin memahami identitas dan peradaban daerahnya.

Kedatangan 15 guru sejarah ini menjadi wakil bagi siswa-siswa mereka, sebagai upaya untuk memperkenalkan sejarah Pasuruan yang kaya kepada generasi muda. Pasuruan, yang ternyata lebih tua daripada Mojopahit hampir 5 abad, dibuktikan dengan keberadaan Prasasti Cungkrang ini. Dengan demikian, upaya memperkenalkan sejarah lokal menjadi lebih signifikan dalam menggali identitas dan kekayaan budaya daerah.

Setelah kunjungan ke Prasasti Cungrang, rombongan guru-guru tersebut melanjutkan lawatan sejarah mereka ke beberapa situs bersejarah lainnya. Mereka mengunjungi beberapa museum yang ada di Surabaya seperti Museum 10 November, Museum De Javanche Bankl, dan Museum Museum Kapal Selam. Semua kunjungan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para guru dalam memahami dan mengapresiasi warisan sejarah yang dimiliki oleh Kabupaten Pasuruan.

Salah satu anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMK Kabupaten Pasuruan, Bapak Noorkholis, menyatakan bahwa kegiatan lawatan sejarah ini menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya pihaknya dalam meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap sejarah lokal di kalangan guru-guru. Dia juga berharap bahwa pengalaman ini dapat dijadikan modal untuk memperkaya materi pembelajaran sejarah bagi siswa-siswi SMK Pasuruan, sehingga mereka dapat lebih menghargai dan mencintai warisan budaya dan sejarah daerah mereka. (Nisful Laily Zain)

Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan akan semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk memahami dan melestarikan sejarah serta budaya lokal mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *